Hari
itu sangat cerah sperti tidak akan ada hujan turun. Tepatnya pukul 13.30 WIB
seluruh mata kuliah hari itu beres. Deni keluar dari kampusnya, berniat pulang
kerumah saudaranya. Deni adalah salah seorang mahasiswa fakultas seni. Dia
belajar disalah satu perguruan tinggi yang khusus dibidang seni. Sosoknya normatif
dan sangat religious, pemalu, punya tampang yang mudah diingat orang. Dia
dikenal orang yang lugu dan ramah oleh teman-temanya.
Deni
berdiri ditrotoar jalan raya disebrang kampusnya. Tangannya melambay ketika
sebuah kendaraan angkutan umum lewat dihadapanya. Hari menjelang sore, langit
mendung pekat, sepertinya akan hujan deras sore ini. Seperempat perjalanan,
angkutan umum mulai dipenuhi penumpang, diantaranya ibu rumah tangga pulang
dari pasar, anak SMA pulang sekolah, SPG, karyawan pabrik, dan macam lainnya.
Hujan perlahan mulai turun. Kebanyakan dalam angkutan umum adalah wanita. Ada
dua orang laki-laki dalam angkutan umum itu, Deni dan sopir angkotnya. Langit
semakin gelap dan hujan pun deras sekali diiringi angin yang sangat kencang,
sehingga semua penumpang panik. Tetapi tidak bagi Deni, karena malu, sebagai
satu-satunya laki-laki yang ada dalam angkot itu. Semua jendela angkot ditutup,
menghindari masuknya air dan angin kedalam angkot yang begitu buas menghantam
setiap sisi dari bagian angkutan umum itu. Tak lama salah satu penumpang turun
karena sudah sampai pada tujuannya, dari sini lah perut Deni mulai merasa tidak
nyaman.
“haduh sial perut mules lagi.gawat,,”ujar Deni
dalam hatinya.
Hujan semakin deras beserta angin yang makin
kencang, semakin terasa melilit pula perut Deni, mulai tegang dan mulai tidak
enak duduk. Seperti ibaratnya ada ikan lele yang berantem dalam perut nya.
“berekbek berekbek,,,burukbuk bururkbuk,,.” perut
Deni berbunyi.
Semua
penumpang wanita sibuk dengan rumpian nya, sementara deni duduk kaku, sedikit
demi sedikit keringat keluar dari tubuhnya, karena dia sudah tidak kuat menahan
gas belerang (H2S) yang akan keluar dari lubang anusnya, atau lebih dikenal
dengan sebutan kentut. Deni ingat hal apa yang ia lakukan sebelum naik angkot.
Dia memakan kripik pedas yang ia beli dari temannya, yang bahan dasar nya
adalah jengkol, merica ,cabe dan pecin. Setelah ia sadar, dia berpikir akan terjadi kiamat besar dalam
angkot itu. Ia tahu bahwa kentutnya akan menyebarkan aroma yamg tidak enak,
tapi apalah daya. Ada dua pilihan untuk Deni, menahan keluar kentutnya hingga
akan menyebabkannya menjadi penyakit, atau mengeluarkannya, sehingga semua
penumpang dalam angkot merasa tidak nyaman dan marah-marah akibat bau yang
ditimbulkannya. Begitulah dilema dalam benak Deni. Hingga tibalah pada pilihan
itu, pada saat-saat yang tidak diinginkan.
“ceus,,,ceus,,!!”
kentut itu keluar dari pantat Deni tidak dengan bunyi yang keras.
Kentut
seperti inilah yang baunya sudah tidak diragukan lagi. Aromanya langsung
menyebar keseluruh ruang angkutan umum yang keadaannya sedang tertutup rapat
ini. Hasilnya semua penumpang geger dengan baunya. Semua penumpang mulai
menutup hidung, dan saling melirik sinis satu sama lain. Seisi ruangan pengap.
“haduh ni kentut bau nya mantap amat
ya,” kata sopir angkot dengan nada seperti menyindir.
“iya. Siapa sih ni yang kentut gak
sopan banget”. Tandas seorang ibu tua.
Tidak
ada yang menjawab. Semuanya diam dan berusaha sekuat mungkin untuk tak
menghirip bau itu. Sementara hujan deras mulai surut. Deni pura-pura merasa
sangat terganggu dengan bau ini. Kerana dirinya takut ketahuan bahwa dirinya
lah yang mengeluarkan bau tersebut. Terlihat seorang penumpang wanita
berseragam sekolah wajahnya memerah karna ingin muntah. Deni semakin merasa
tidak tega melihat penumapang angkot ini tersiksa oleh bau kentutnya.
“maafkan aku, aku terpaksa melakukan
ini”. Ujar deni dalam hatinya.
“kiri depan, kiri!! Berhenti!!!”
kata salah seorang penumpang.
Angkot
berhenti, pintu angkot dibuka dan seseorang tadi turun lalu memberikan ongkos
pada pak sopir. Setelah satu penumpang tadi turun pak sopir tancap gas lagi.
“berhenti, berhenti!!! Kiri ,
kiri!!!!”. Semua penumpang seraya menandaskan kapada pak sopir.
Semua
penumpang ikut keluar dari angkot setelah penumpang tadi. Deni pun ikut keluar.
Kebanyakan dari mereka belum sampai pada tempat tujuannya. Karena kecewa mereka
membayar ongkos setengahnya.
“lho
kenapa pada turun ??” . kata pak sopir dengan kaget.
“habis
angkotnya bau kentut sih!! Ia pak sopir. Kita gak kuat sama baunya. Yo kita
naik angkot lain aja”. Kata beberapa penumpang sembari meninggalkan angkot itu.
“wah
sial ni. Gila tuh orang yang kentut. Bikin ancur usaha orang aja”. Ujar pak
sopir sambil kembali menancapkan gas.
Deni
yang belum jauh dari tempat berhenti tadi,
tak sengaja mendengar pak sopir menggerutu. Dia merasa iba, karena dia
lah pelaku sialnya. Semoga kejadian sperti ini tak terulang lagi. Kentut ini
adalah kenikmatan dari Tuhan, tak semestinya menjadi penyebab perselisihan.
Bagaimana jika momen itu terjadi pada saya atau anda?.
(mohon minta komen atas cerpen saya!!)

Manta banga ... heee ^_^
BalasHapuscerita ny ,,, lanjutkan lagi buat cerita lucu nya .,.., semangat ,,, kembangkan ... sukses selalu ...
siap gan .,.,., makasih supot nya.,.,.,.,
BalasHapus:p