Minggu, 13 Mei 2012

Cerita Lucu,Dilema

Dilema, ngaku ? nggak?

Hari itu sangat cerah sperti tidak akan ada hujan turun. Tepatnya pukul 13.30 WIB seluruh mata kuliah hari itu beres. Deni keluar dari kampusnya, berniat pulang kerumah saudaranya. Deni adalah salah seorang mahasiswa fakultas seni. Dia belajar disalah satu perguruan tinggi yang khusus dibidang seni. Sosoknya normatif dan sangat religious, pemalu, punya tampang yang mudah diingat orang. Dia dikenal orang yang lugu dan ramah oleh teman-temanya.
Deni berdiri ditrotoar jalan raya disebrang kampusnya. Tangannya melambay ketika sebuah kendaraan angkutan umum lewat dihadapanya. Hari menjelang sore, langit mendung pekat, sepertinya akan hujan deras sore ini. Seperempat perjalanan, angkutan umum mulai dipenuhi penumpang, diantaranya ibu rumah tangga pulang dari pasar, anak SMA pulang sekolah, SPG, karyawan pabrik, dan macam lainnya. Hujan perlahan mulai turun. Kebanyakan dalam angkutan umum adalah wanita. Ada dua orang laki-laki dalam angkutan umum itu, Deni dan sopir angkotnya. Langit semakin gelap dan hujan pun deras sekali diiringi angin yang sangat kencang, sehingga semua penumpang panik. Tetapi tidak bagi Deni, karena malu, sebagai satu-satunya laki-laki yang ada dalam angkot itu. Semua jendela angkot ditutup, menghindari masuknya air dan angin kedalam angkot yang begitu buas menghantam setiap sisi dari bagian angkutan umum itu. Tak lama salah satu penumpang turun karena sudah sampai pada tujuannya, dari sini lah perut Deni mulai merasa tidak nyaman.
 “haduh sial perut mules lagi.gawat,,”ujar Deni dalam hatinya.
 Hujan semakin deras beserta angin yang makin kencang, semakin terasa melilit pula perut Deni, mulai tegang dan mulai tidak enak duduk. Seperti ibaratnya ada ikan lele yang berantem dalam perut nya.
berekbek berekbek,,,burukbuk bururkbuk,,.” perut Deni berbunyi.
Semua penumpang wanita sibuk dengan rumpian nya, sementara deni duduk kaku, sedikit demi sedikit keringat keluar dari tubuhnya, karena dia sudah tidak kuat menahan gas belerang (H2S) yang akan keluar dari lubang anusnya, atau lebih dikenal dengan sebutan kentut. Deni ingat hal apa yang ia lakukan sebelum naik angkot. Dia memakan kripik pedas yang ia beli dari temannya, yang bahan dasar nya adalah jengkol, merica ,cabe dan pecin. Setelah ia sadar,  dia berpikir akan terjadi kiamat besar dalam angkot itu. Ia tahu bahwa kentutnya akan menyebarkan aroma yamg tidak enak, tapi apalah daya. Ada dua pilihan untuk Deni, menahan keluar kentutnya hingga akan menyebabkannya menjadi penyakit, atau mengeluarkannya, sehingga semua penumpang dalam angkot merasa tidak nyaman dan marah-marah akibat bau yang ditimbulkannya. Begitulah dilema dalam benak Deni. Hingga tibalah pada pilihan itu, pada saat-saat yang tidak diinginkan.
“ceus,,,ceus,,!!” kentut itu keluar dari pantat Deni tidak dengan bunyi yang keras.
Kentut seperti inilah yang baunya sudah tidak diragukan lagi. Aromanya langsung menyebar keseluruh ruang angkutan umum yang keadaannya sedang tertutup rapat ini. Hasilnya semua penumpang geger dengan baunya. Semua penumpang mulai menutup hidung, dan saling melirik sinis satu sama lain. Seisi ruangan pengap.
            “haduh ni kentut bau nya mantap amat ya,” kata sopir angkot dengan nada seperti menyindir.
            “iya. Siapa sih ni yang kentut gak sopan banget”. Tandas seorang ibu tua.
Tidak ada yang menjawab. Semuanya diam dan berusaha sekuat mungkin untuk tak menghirip bau itu. Sementara hujan deras mulai surut. Deni pura-pura merasa sangat terganggu dengan bau ini. Kerana dirinya takut ketahuan bahwa dirinya lah yang mengeluarkan bau tersebut. Terlihat seorang penumpang wanita berseragam sekolah wajahnya memerah karna ingin muntah. Deni semakin merasa tidak tega melihat penumapang angkot ini tersiksa oleh bau kentutnya.
            “maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini”. Ujar deni dalam hatinya.
            “kiri depan, kiri!! Berhenti!!!” kata salah seorang penumpang.
Angkot berhenti, pintu angkot dibuka dan seseorang tadi turun lalu memberikan ongkos pada pak sopir. Setelah satu penumpang tadi turun pak sopir tancap gas lagi.
            “berhenti, berhenti!!! Kiri , kiri!!!!”. Semua penumpang seraya menandaskan kapada pak sopir.
Semua penumpang ikut keluar dari angkot setelah penumpang tadi. Deni pun ikut keluar. Kebanyakan dari mereka belum sampai pada tempat tujuannya. Karena kecewa mereka membayar ongkos setengahnya.
“lho kenapa pada turun ??” . kata pak sopir dengan kaget.
“habis angkotnya bau kentut sih!! Ia pak sopir. Kita gak kuat sama baunya. Yo kita naik angkot lain aja”. Kata beberapa penumpang sembari meninggalkan angkot itu.
“wah sial ni. Gila tuh orang yang kentut. Bikin ancur usaha orang aja”. Ujar pak sopir sambil kembali menancapkan gas.
Deni yang belum jauh dari tempat berhenti tadi,  tak sengaja mendengar pak sopir menggerutu. Dia merasa iba, karena dia lah pelaku sialnya. Semoga kejadian sperti ini tak terulang lagi. Kentut ini adalah kenikmatan dari Tuhan, tak semestinya menjadi penyebab perselisihan. Bagaimana jika momen itu terjadi pada saya atau anda?. 

(mohon minta komen atas cerpen saya!!) 

2 komentar:

  1. Manta banga ... heee ^_^

    cerita ny ,,, lanjutkan lagi buat cerita lucu nya .,.., semangat ,,, kembangkan ... sukses selalu ...

    BalasHapus
  2. siap gan .,.,., makasih supot nya.,.,.,.,
    :p

    BalasHapus